TEMA KARANGAN
Tema
karangan adalah sesuatu yang akan disampaikan atau yang menjadi pokok masalah
dalam karangan. Tema biasanya disampaikan dalam sebuah
kalimat. Dalam kerangka karangan, tema dapat dijabarkan menjadi topik-topik yang
lebih sempit.
1. Pengertian Tema
Tema merupakan suatu gagasan pokok atau ide pikiran
tentang suatu hal, salah satunya dalam membuat suatu tulisan. Di setiap tulisan pastilah mempunyai sebuah tema,
karena dalam sebuah penulisan dianjurkan harus memikirkan tema apa yang akan
dibuat. Dalam menulis cerpen,puisi,novel,karya tulis, dan
berbagai macam jenis tulisan haruslah memiliki sebuah tema. Jadi jika
diandaikan seperti sebuah rumah, tema adalah fondasinya. Tema juga hal yang
paling utama dilihat oleh para pembaca sebuah tulisan. Jika temanya menarik,
maka akan memberikan nilai lebih pada tulisan tersebut.
2.
Pemilihan Topik
Dalam
menulis suatu karya tulis, pemilihan topik sangatlah penting dan dapat
menentukan hasil dari karya tulis tersebut. Untuk itu perlu diperhatikan
syarat-syarat dalam pemilihan topik-topik yang baik. Berikut ini beberapa
syarat yang harus diperhatikan penulis dalam pemilihan topik suatu karya tulis
:
1.
Topik harus menarik perhatian penulis.
Topik
yang menarik perhatian akan memotivasi pengarang atau penulis secara
terus-menerus mencari data-data untuk memecahkan masalah-masalah yang
dihadapinya. Penulis akan didorong agar dapat menyelesaikan tulisan
sebaik-baiknya. Sebaliknya, jika suatu topik yang sama sekali tidak disenangi
penulis akan menimbulkan kekesalan. Bila terdapat hambatan pun, penulis tidak
akan berusaha sekuat tenaga untuk menentukan data dan fakta yang akan digunakan
untuk memecahkan masalah.
2.
Topik harus diketahui/dipahami penulis.
Penulis
hendaklah mengerti serta mengetahui meskipun baru prinsip-prinsip ilmiahnya.
Misalnya asal data yang digunakan berasal dari mana? , metode analisis yang
digunakan, dan referensi apa saja yang akan menjadi acuan.
3.
Jangan terlalu baru, teknis, dan kontroversial.
Bagi
penulis pemula, topik yang terlalu baru kemungkinan belum ada referensinyadalam
kepustakaan. Topik yang terlalu teknis kemungkinan dapat menjebak penulis
jika tidak benar-benar menguasai bahan penulisannya. Begitu juga topik yang
kontroversial akan menimbulkan kesulitan untuk bertindak secara objektif.
4.
Bermanfaat.
Topik
yang dipilih hendaknya bermanfaat. Ditinjau dari segi akademis dapat
mengembangkan ilmu pengetahuan dan dapat berguna dalam ehidupan sehari-hari
maupun dari segi praktis.
5.
Jangan terlalu “Luas”.
Penulis
harus membatasi topik yang akan ditulis. Setiap penulis harus betul-betul yakin
bahwa topik yang dipilihnya cukup sempit dan terbatas untuk digarap sehingga
tulisan bisa fokus dan tepat sasaran.
Hal yang perlu
diperhatikan penulis ialah pembatasan topik. Pembatasan topik
sekurang-kurangnya dapat membantu penulis atau pengarang dalam berbagai hal
berikut ini :
1. Memungkinkan penulis
penuh dengan keyakinan dan kepercayaan bahwa topik tersebut benar-benar
diketahuinya.
2. Memungkinkan penulis mengadakan penelitian dengan intensif mengenai masalahnya.
2. Memungkinkan penulis mengadakan penelitian dengan intensif mengenai masalahnya.
Cara membatasi sebuah
topik dapat dilakukan dengan cara :
1. Tetapkanlah topik dalam kedudukan sentral.
2. Ajukan pertanyaan apakah topik tersebut masih dapat dirinci?.
3. Tetapkanlah yang mana subtopik yang akan dipilih.
4. Ajukanlah pertanyaan apakah subtopik yang dipilih masih dapat dirinci lebih lanjut.
5. Lakukan proses diatas secara terus-menerus hingga mendapatkan sebuah Tema.
1. Tetapkanlah topik dalam kedudukan sentral.
2. Ajukan pertanyaan apakah topik tersebut masih dapat dirinci?.
3. Tetapkanlah yang mana subtopik yang akan dipilih.
4. Ajukanlah pertanyaan apakah subtopik yang dipilih masih dapat dirinci lebih lanjut.
5. Lakukan proses diatas secara terus-menerus hingga mendapatkan sebuah Tema.
Jika telah mendapatkan
topik yang sesuai apalagi yang perlu dicari?. Dalam sebuah karya tulis,
pemilihan judul juga perlu diperhatikan. berikut syarat-syarat judul yang baik
:
1. Original dan asli.
2. Relevan.
3. Provokatif.
4. Singkat.
1. Original dan asli.
2. Relevan.
3. Provokatif.
4. Singkat.
Ilustrasi Pemilihan
topik :

3.
Pembatasan Maksud
Pembatasan maksud merupakan sebuah
rancangan meyeluruh yang memungkinkan penulis bergerak bebas dalam batas‐batas tadi. Seperti halnya dalam pembatasan topic,
pembatasan maksud juga akkan menentukan bahan mana yang diperlukan, serta cara
mana yang paling baik bagi penyusunan karangan itu.
4. Menentukan
Maksud
Menentukan
Maksud Pembatasan topik sampai pada tahap ini belum cukup , masih ada satu hal
yang penting yang perlu ditetapkan yaitu apa maksud pengarang dalam menguraikan
topik tadi . Pembatasan maksud merupakan sebuah rancangan menyeluruh yang
memungkinkan penulis bergerak bebas dalam batas-batas . Seperti halnya dengan
pembatasan topik , pembatasan maksud juga akan menentukan bahan mana yang
diperlukan , serta cara mana yang paling baik bagi penyusun karangan itu .
5.
Tesis
dan Pengungkapan Maksud
Perumusan
singkat yang mengandung tema dasar dari sebuah karangan atau gagasan sentral
yang menonjoldisebut tesis . Bila tulisan itu tidak menonjolkan suatu gagasan
utama , maka dalam bentuk singkatnya dapat dinyatakan dalam bentuk penjelasan
tentang apa yang ingin disampaikan . Perumusan singkat ini yang tidak
menekankan tema dasarnya disebut pengungkapan maksud .
6.
Tema
Yang Baik
Tema
yang Baik Tema yang dikembangkan dengan jujur dan segar , digarap secara
terperinci dan jelas , sehingga dapat menambahkan informasi yang berharga bagi
perbendaharaan pengetahuan pembaca sebagai sebuah tema yang baik . Sebuah tema
yang baik dapat dinilai dari dua sudut , yaitu : dari sudut suatu karya yang
sudah siap , dan dari syarat-syarat yang dipenuhi pada saat sebuah tema mulai
disusun . Atau penilaian itu dapat dilakukan dengan mempersoalkan apakah sebuah
karya itu bernilai atau tidak . Sebuah karya dianggap tidak bernilai apabila
pemikirannya kabur dan ditulis dengan tergesa-gesa , tidak memiliki gagasan
sentral , tetapi hanya mengungkapkan beberapa pernyataan yang lepas . Apa yang
dikemukakan merupakan klise-klise umum , atau pikiran dan pendapat orang lain
tanpa mengemukakan hasil pikirannya sama sekali ; tulisan itu tidak
dikembangkan dengan baik untuk menjawab persoalan-persoalan tentang topik atau
bagian-bagiannya . Di samping itu tulisan itu tidak bernilai kalau susunannya
tidak teratur , tidak mengikuti urutan yang logis dan koherensi atau
kepaduannya kurang baik . Pendeknya sebuah karangan atau tulisan tidak bernilai
sama sekali kalau penulisannya tidak berusaha memeras pikirannya sendiri ,
tidak berusaha mencari informasi-informasi untuk menyakinkan dirinya bahwa ia
mengetahui persoalan itu .
KERANGKA
KARANGAN
1.
Pengertian
Kerangka Karangan
Kerangka
karangan (outline) merupakan suatu rencana kerja yang mengandung ketentuan
tentang bagaimana menyusun karangan dan bagaimana menyusun ide secara logis dan
teratur. Sebelum mengarang, utamanya penulis pemula dianjurkan menyusun
kerangka untuk menghindarkan kesalahan-kesalahan yang tidak perlu terjadi.
Selain itu kerangka karangan berguna untuk:
-
Membantu penyusunan karangan secara teratur sehingga tidak terjadi pengulangan
ide
-
Mencegah terjadinya pembahasan yang keluar dari sasaran yang sudah dirumuskan
dalam topic atau judul karangan
-
Memperlihatkan bagian-bagian pokok karangan
-
Memperlihatkan bahan-bahan yang diperlukan dalam pembahasan masalah yang akan
ditulis
Adapun
langkah yang mesti ditempuh untuk membuat kerangka karangan adalah
1.
Menentukan tema yang akan dikembangkan menjadi karangan
2.
Merumuskan topic-topic yang merupakan subtemanya
3.
Mengadakan inventaris sub-subtopiknya
4.
Mengevaluasi topic-topik itu dan menyeleksi topic mana yang dapat dibuang
5.
Menentukan pola susun topic-topik yang paling cocok
6.
Menentukan pola pengembangan yang akan digunakan (meskipun tidak bersifat kaku
tanpa variasi)
Jika
kita memahami bahwa kerangka karangan adalah suatu rencana kerja yang memuat
garis-garis besar karangan yang akan kita garap, maka menyusun kerangka karangan
berarti memecah-memecah topic kedalam beberapa subtopic. Bahkan ,mungkin pula
subtopic masih perlu dipecah lagi menjadi beberapa sub-subtopic
Ada
dua jenis kerangka karangan, yaitu :
1.
Kerangka karangan yang berbentuk kalimat
2.
Kerangka karangan yang berbentuk topic
Kerangka
kalimat menggunakan kalimat berita yang lengkap untuk merumuskan setiap topic,
subtopic maupun sub-subtopicnya, sedangkan kerangka topic hanya terdiri atas
topic-topik yang berupa frasa atau bahkan kata
2.
Manfaat
Kerangka Karangan
Manfaat
Kerangka Karangan
Mengapa
metode ini sangat dianjurkan kepada para penulis, terutama kepada mereka yang
baru mulai menulis?
Karena
metode ini akan membantu setiap penulis untuk menghindari kesalahan-kesalahan
yang tidak perlu dilakukan. Atau secara terperinci dapat dikatakan bahwa outlie
atau kerangka karangan dapat membantu penulis dalam hal-hal berikut:
a.
Untuk menyusun karangan secara teratur.
Kerangka
karangan membantu penulis untuk melihat wujud gagasan- gagasan dalam sekilas
pandang, sehingga dapat dipastikan apakah susunan dan hubungan timbal-balik
antara gagasan-gagasan itu sudah tepat, apakah gagasan- gagasan itu sudah
disajikan dengan baik, harmonis dalam perimbangannya.
Dengan
kata lain, apakah tesis atau pengungkapan maksud sudah diperinci secara
maksimal dan urutannya sudah disusun dalam pola teratur atau tidak. Demikian
seterusnya, apakah setiap gagasan bawahan sudah diperinci pula secara maksimal
dan telah diurutkan pula dengan baik.
b.
Memudahkan penulis menciptakan klimaks yang berbeda- beda.
Setiap
tulisan dikembangkan menuju ke satu klimaks tertentu. Namun sebelum mencapai
klimaks dari seluruh karangan itu, terdapat sejumlah bagian yang berbeda-beda.
kepentingannya terhadap klimaks utama tadi. Tiap bagian juga mempunyai
kilrnaks tersendiri dalam bagiannya.
Supaya
pembaca dapat terpikat secara terus-menerus menuju kepada klimaks utama, maka
susunan bagian- bagian harus diatur pula sedemikian sehingga iercipta klimaks
yang berbeda-beda yang dapat memikat perhatian pembaca.
c.
Menghindari penggarapan sebuah topik sampai dua kali atau lebih.
Ada
kemungkinan suatu bagian perlu dibicarakan dua kali atau lebih, sesuai dengan
kebutuhan tiap bagian, dan karangan itu. Namun penggarapan suatu topik
sampai dua kali atau lebih tidak perlu. Karena hal itu hanya akan membawa efek
yang tidak menguntungkan misalnya: bila penulis tidak sadar betul maka
pendapatnya mengenai topik yang sama pada bagian terdahulu lain, sedangkan pada
bagian kemudian bertentangan dengan terdahulu.
Hal
ini tidak dapat diterima, bahwa dalam satu karangan yang ssama terdapat
pendapat yang bertentangan satu sama lain. Di pihak lain menggarap suatu topik
lebih dan satu kali hanya membuangwaktu, tenagadan materi. Kalau memang tidak
dapat dihindari maka penuiis harus menetapkan pada bagian mana topik tadi harus
diuraikan, sedangkan bagian yang lain cukup dengan menunjuk kembali kepada
bagian yang fain tadi (lihat selanjutnya Catatan Kaki).
d.
Memudahkan penulis untuk mencari materi pemhantu.
Dengan
mernpergunakan perincian-perincian dalam kerangka karangan penuiis dengan mudah
akan mencari data-data atau fakta-fakta untuk memperjelas atau membuktikan
pendapatnya. Atau data dan fakta-fakta yang telah dikumpulkan akan
dipergunakan untuk bagian-bagian mana dari karangannya itu.
Bila
seorang pembaca kelak menghadapi karangan yang telah sjap, ia dapat
menyusutkannya kembaii kepada kerangka karangan yang hakikatnya sama dengan apa
yang te!ah dibuai pengarangnya. Dengan penyusutan ini pembaca akan melihat
wujud, gagasan, struktur, serta nilai umum dari karangan itu.
Kerangka
karangan merupakan miniatur atau prototipe dari sebuah karangan. Dalam bentuk
miniatur ini karangan tersebut dapat diteliti, dianaiisa, dan dipertimbangkan
secara menyeluruh, bukan secara terlepas- lepas. Dengan demikian:
tesis/pengungkapan maksud = kerangka karangan = karangan -ringkasan.
3.
Penyusuan
Kerangka Karangan
Suatu
kerangka karangan yang baik tidak sekali dibuat. Penulis selalu akan berusaha
menyempurnakan bentuk yang pertama, sehingga bisa diperoleh bentuk yang lebih
baik, demikian seterusnya. Untuk itu dapatdikemukakan beberapa langkah yang
perlu diikuti, terutama bagi mereka yang baru mulai manulis.
Langkah-langkah
ini tidak mutiak harus diikuti oleh penulis-penulis yang sudah mahir. Seorang
penulis yang sudah biasa dengan tulisan-tulisan yang kompleks, akan dengan
mudah menyusun suatu kerangka karangan yang baik. Namun sebelum seorang penulis
baru mahir menyusun sebuah karangan ia memerlukan beberaoa tuntunan.
Langkah-langkah sebagai tuntunan yang harus diikuti adalah sebagai berikut:
Langkah-langkah sebagai tuntunan yang harus diikuti adalah sebagai berikut:
Rumuskan
tema yang jelas berdasarkan suatu topik dan tujuan yang akan dicapai melalui
topik tadi. Tema yang dirumuskan untuk kepentingan suatu kerangka karangan
haruslah berbentuk tesis atau pengungkapan maksud.
Langkah
yang kedua adalah mengadakan inventarisasi topik-topik bawahan yang dianggap
merupakan perincian dari tesis atau pengungkapan maksud tadi. Dalam hal ini
penulis boleh mencatat sebanyak-banyaknya topik-topik yang terlintas dalam
pikirannya, dengan tidak perlu langsung mengadakan evaluasi terhadap
topik-topik tadi.
Langkah
yang ketiga adalah penulis berusaha mengadakan evaluasi semua topik yang telah
tercatat pada langkah kedua di atas. Evaluasi tersebut dapat dilakukan dalam
beberapa tahap sebagai berikut:
Pertama: Apakah.
semua topik yang tercatat mempunyai pertalian (relevansi) langsung dengan tesis
atau pengungkapan maksud. Bila ternyata sama sekali tidak ada hubungan maka
topik tersebut dicoret dari daftar di atas.
Kedua
: Semua topik yang masih dipertahankan ke- mudian dievaluasi lebih
lanjut. Apakah ada dua topik atau lebih yang se- benarnya merupakan hal
yang sama, hanya dirumuskan dengan cara yang berlainan. Bila ternyata terdapat
kasus yang semacam itu, maka harus diadakan perumusan bam yang mencakup semua
topik tadi.
Ketiga
: Evaluasi lebih lanjut ditujukan kepada persoalan: apakah semua topik itu
sama derajatnya, atau ada topik yang sebenamya merupakan bawah- an atau
perincian dari topik yang lain. Bila ada masukkanlah topik bawahan itu ke dalam
topik yang dianggap lebih tinggi kedudukannya. Bila topik bawahan itu hanya ada
satu usahakan dilengkapi dengan topik-topik bawahan yang lain.
Ke
empat : Ada kemungkinan bahwa ada dua topik atau lebih yang kedudukannya
sederajat, tetapi lebih rendah dari topik-topik yang lain. Bila terdapat hal
yang demikian, maka usahakanlah untuk mencari satu topik yang lebih tinggi yang
akan membawahi topik-topik tadi.
Untuk
mendapatkan sebuah kerangka karangan yang sangatterperinci maka langkah kedua
dan ketiga dikerjakan beruiang-ulang untuk menyusun topik-topik yang lebih
rendah tingkatannya.
Sesudah
semuanya siap masih bams dilakukan langkah yang terakhir, yaitu menentukan
sebuah pola susunan yang paling cocok untuk mengurutkan semua perincian dari
tesis atau pengungkapan maksud sebagai yang telah diperoleh dengan
mempergunakan semua langkah di atas.
Dengan
pola susunan tersebut semua perincian akan disusun kembali sehingga akan
diperoleh sebuah kerangka karangan yang baik.
4.
Pola
Susunan Kerangka Karangan
Untuk
memperoleh suatu susunan kerangka karangan yang teratur, biasanya dipergunakan
beberapa cara atau tipe susunan. Pola susunan yang paling utama adalah pola
alamiah dan pola logis. Pola alamiah dan suatu kerangka karangan biasanya dida-
sarkan atas urutan-urutan kejadian, atau urutan-urutan tempatatau ruang.
Sebaliknya pola logis walaupun masih ada sentuhan dengan keadaan yang nyata,
tetapi lebih dipengaruhi oleh jalan pikiran manusia yang menghadapi persoalan
yang tengah digarap itu.
Pola
Alamiah .
Susunan
atau pola alamiah adalah suatu urutan unit-unit kerangka karangan sesuai dengan
keadaan yang nyata di alam. Sebab itu susunan alamiah itu didasarkan pada
ketiga (atau keempat) dimensi dalam kehidupan manusia: atas – bawah, melintang
– menyeberang, sekarang – nanti, dulu – sekarang, timur – barat, dan
sebagainya. Sebab itu susunan alamiah dapat dibagi lagi menjadi tiga bagian
utama, yaitu urutan berdasarkan waktu (urutan kronologis), urutan berdasarkan
ruang (urutan spasial), dan urutan berdasarkan topik yang sudah ada
a.
Urutan Waktu (Kronologis)
Urutan
waktu atau urutan kronologis adalah urutan yang didasarkan pada runtunan
peristiwa atau tahap-tahap kejadian. Yang paling mudah dalam pola urutan ini
adalah mengurutkan peristiwa menurut urutan kejadiannya atau berdasarkan
kronologinya; peristiwa yang satu mendahului yang lain, atau suatu peristiwa
mengikuti peristiwa yang lain. Sering suatu peristiwa hanya akan menjadi
penting bila dilihat dalam rangkaian dengan peristiwa-peristiwa lainnya.
Biasanya peristiwa yang pertama sama sekali tidak menarik perhatian, sampai
rangkaian kejadian itu mengalami perkembangan.
Suatu
corak lain dan urutan kronologis yang sering diper-gunakan dalam roman, novel,
cerpen, dan dalam bentuk karangan naratif lainnya, adaiah suatu variasi yang
muiai dengan suatu titik yang menegangkan, kemudian mengadakan sorot-balik
(flash¬back) sejak awal mula perkembangan hingga titik yang mene¬gangkan tadi.
Uraian selanjutnya mencakup perkembangan sesudah apa yang dikemukakan daiam
bagian pertama yaitu titik yang menegangkan tadi.
Urutan
kronologis adaiah urutan yang paling umum, tetapi juga merupakan satu-satunya
cara yang kurang menarik dan paling lemah. Sering, terutama daiam menjelaskan
suatu proses, urutan ini merupakan cara yang esensial.
b.
Urutan Ruang (Spasial)
Urutan
ruang atau urutan spasial menjadi landasan yang pal¬ing penting, bila topik
yang diuraikan mempunyai pertalian yang sangat erat dengan ruang atau tempat.
Urutan ini terutama digunakan daiam tulisan-tulisan yang bersifat deskriptif.
Pembaca akan mengikuti jalan pikiran penulis dengan teraturseandainya penulis
muiai menggambarkan suatu ruangan dari kiri ke kanan, dari timur ke barat, dari
bawah ke atas, dari depan ke belakang, dan sebagainya.
Uraian
tentang kepadatan penduduk suatu daerah dapat dikemukakan dengan landasan
urutan geografis (dari timur ke barat, atau dari utara keselatan);deskripsi
mengenai sebuah gedung bertingkat dapat dilakukan dari tingkat pertama
berturut- turut hingga tingkat terakhir; observasi terhadap candi Borobudur
dgpat dilakukan dari tingkat atau teras terbawah berturut-turut hingga teras
teratas, dengan mengikuti arah jarum jam.
c.
Topik yang Ada
Suatu
pola peralihan yang dapat dimasukkan daiam pola alamiah adaiah urutan
berdasarkan topik yang ada. Suatu barang, hal, atau peristiwa sudah dikenal
dengan bagian-bagian tertentu. Untuk menggambarkan hal tersebut secara lengkap,
mau tidak mau bagian-bagian itu harus dijelaskan berturut-turut daiam karangan
itu, tanpa mempersoalkan bagian mana lebih penting dari lainnya, tanpa memberi
tanggapan atas bagian-bagiannya itu.
Laporan
keuangan selalu akan terdiri dari dua bagian yaitu pemasukan dan pengeluaran,
dengan tidak mempersoalkan mana yang didahulukan dan mana yang diuraikan
kemudian. Perserikatan Bangsa-Bangsa terdiri dari beberapa badan. Penulis boleh
mengurutkan bagian-bagian itu tanpa implikasi bahwa yang diuraikan lebih dahulu
itu merupakan bagian yang lebih penting dari bagian yang diuraikan kemudian.
Pola
Logis
Sering
terdengar ucapan ’’manusia adalah hewan yang berakal budi”. Berarti manusia
mempunyai suatu kesanggupan lebih dari hewan- hewan lainnya yaitu sanggup
menanggapi segala sesuatu yang berada di sekitarnya dengan kemampuan akal
budinya. la mencoba mencari hubungan-hubungan antara bermacam-macam peristiwa.
Kemampuan
budinya itu tercermin pula dalam usaha menyusun suatu uraian sesuai dengan
tanggapannya. Tanggapan yang sesuai dengan jalan pikiran untuk menemukan
landasan bagi setiap persoalan, mampu dituang dalam suatu susunan atau umtan
logis. Urutan logis sama sekali tidak ada hubungan dengan suatu ciri yang
inheren dalam materinya, tetapi erat dengan tanggapan penulis.
Sebenarnya
semua topik yang diurutkan dalam suatu hubungan yang logis itu bertolak dari
topik-topik yang sudah ada. Namun topik yang sudah ada itu oleh penulis
dicarikan hubungannya satu sama lain, diberikan tanggapan dan diberi ciri- ciri
tertentu.
Macam-macam
urutan logis yang dikenal adalah:
a.
Urutan Klimaks dan Anti Klimaks
Urutan
ini timbul sebagai tanggapan penulis yang berpendirian bahwa posisi tertentu
dari suatu rangkaian merupakan posisi yang paling tinggi kedudukannya atau yang
paling menonjol. Biia posisi yang paling penting itu berada pada akhir
rangkaian maka urutan ini disebut klimaks. Dalam urutan klimaks pengarang
menyusun bagian-bagian dari topik itu dalam suatu urutan yang semakin meningkat
kepentingannya, dari yang paling rendah kepen- tingannya,
bertingkat-tingkatnaik hingga mencapai ledakan pada akhirrangkaian.
Urutan
yang merupakan kebalikan dan klimaks adalah anti klimaks. Penulis mulai suatu
yang paling penting dari suatu rangkaian dan berangsur-angsur menuju kepada
suatu topik yang paling rendah kedudukan atau kepentingannya. Urutan ini hanya
efektif kalau topik-topik yang dikemukakan itu berupa hal-hal yang konkret, misalnya:
hierarki pemerintahan, hierarki jabatan, dan sebagainya.
Sebaliknya
untuk menguraikan gagasan-gagasan yang abstrak maka urutan anti- klimaks akan
menimbulkan kesulitan karena tidak menarik perhatian; kalau sesuatu yang
penting telah dikemukakan maka hal-hal yang penting tidak akan menarik lagi.
Dasardari
urutan ini adalah bahwa orang tidak akan menaruh perhatian lagi terhadap
hal-hal yang kurang penting seandainya hal yang paling penting sudah
dikemukakan lebih dahulu. Kekecewaan orang terhadap anti-klimaks disebabkan
oleh kegagalan menempatkan bagian yang paling penting atau yang paling tinggi
pada tempat yang tepat.
b.
Urutan Kausal ‘
Urutan
kausal mencakup dua pola yaitu urutan dari £ ibab ke akibat, dan urutan
akibatke sebab, Pada pola yang pertama suatu masalah dianggap sebagai sebab,
yang kemudian dilanjutkan dengan perincian-perincian yang menelusuri
akibat-akibat yang mungkin teijadi. Urutan ini sangat efektif dalam penulisan
sejarah atau dalam membicarakan persoalan-persoalan yang dihadapi umat manusia
pada umumnya.
Sebaliknya,
bila suatu masalah dianggap sebagai akibat, yang dilanjutkan dengan
perincian-perincian yang berusaha mencari sebab-sebab yang menimbulkan masalah
tadi, maka urutannya merupakan akibat-sebab. Mengapa seofang ditangkap?
Karena
melakukan korupsi. Jadi persoalan pertama yang dikemukakan adalah peristiwa
penangkapan itu sendiri yang dianggap sebagai akibat, kemudian penulis berusaha
mencari sebab-sebabnya yang dikemukakan dalam tindakan korupsi. Cara ini
merupakan cara yang paiing umum.
c.
Unitan Pemecahan Masalah
Urutan
pemecahan masalah dimulai dari suatu masalah te;ientu, kemudian bergerak menuju
kesimpulan umum atau pemecahan atas masalah tersebut. Sekurang-kurangnya uraian
yang mempergunakan landasan pemecahan masalah terdiri dari tiga bagian utama,
yaitu deskripsi mengenai peristiwa atau persoalan tadi, kedua, analisa mengenai
sebab-sebab atau akibat- akibat dari persoalan, dan akhirnya
aiternatif-alternatif untukjalan keluardari masalah yang dihadapi tersebut.
Dengan
demikian untuk memecahkan masalah tersebut secara tuntas, penulis harus
benar-benar menemukan semua sebab baikyang langsung maupun yang tidak langsung
bertalian dengan masalahr tadi. Setiap masalah hanya bisa dikatakan masalah
kalau akibat-akibatyang ditimbulkan telah mencapai titik kritis.
Sebab
itu untuk memecahkan masalah tersebut tidak bisa hanya terbatas pada penemuan
sebab-sebab, tetapi juga harus menemukan semua akibat baik yang langsung maupun
yang tidak langsung, yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi kelak.
Sebuah
panitia yang dibentuk untuk mengatasi masalah bencana alam yang terjadi karena
banjir yang melanda suatu daerah, tidak akan berhasil kalau ia hanya bertugas
untuk mengumpulkan bahan makanan atau pakaian bagi yang ditimpa musibah. la harus
menganalisa mengapa sampai terjadi banjir, di samping menemukan aklbat-akibat
yang terjadi.
Dengan
mengemukakan aiternatif-alternatif untuk mengatasi banjir di kemudian hail, dan
menyarankan cara-cara untuk menanggulangi akibat-akibat yang telah dan akan
terjadi, diharapkan masalah itu dapatdiatasi secara tuntas.
d.
Urutan Umum – Khusus
Urutan
umum-khusus terdiri dari dua corak yaitu dan umum ke khusus, atau dari khusus
ke umum.
Urutan
yang bergerakdari umum ke khusus pertama-tama mernperkenalkan kelompok-kelompok
yang paling besar atau yang paling umum, kemudian menelusuri kelompok-kelompok
khusus atau kecil. Pertama-tama penulis menguraikan misalnya bangsa Indonesia
secara keseluruhan, kemudian turun kepada hal-hal yang lebih khusus kepada
suku-suku bangsa yang membentuk bangsa Indonesia seperti: suku Batak, Aceh,
Sunda, Melayu, Jawa, dsb.
Dari
uraian yang bersifat khusus tadi, penulis bisa melangkah kepada hal yang lebih
khusus lagi, yaitu perincian dari tiap suku bangsa tadi.
Urutan
khusus-umum menjpakan kebalikan dari uraian di atas. Penulis mulai uraiannya
mengenai hal-hal yang khusus kemudian meningkat kepada hal-hal yang umum yang
mencakup hal-hal yang’ khusus tadi, atau mulai membicarakan individu-individu
kemudian kelompok-kelompok.
Urutan
ini merupakan salah satu urutan yang paling lazim dalam corak berpikirmanusia.
Dalam mengadakan pengelompokan-pengelompokan terhadap dunia hewan, maka
ahli-ahli mulai meneliti hewan-hewan secara individual, kemudian
menggabungkannya menjadi keluarga, species, dan sebagainya.
Urutan
umum – khusus dapat mengandung implika^i bahwa hal yang umum sudah diketahui
penulis, sedangkan tugasnya selanjutnya adalah mengadakan identifikasi sejauh
mana hal-hal yang khusus mengikuti pola umum tadi. Sebaliknya urutan khusus – umum
dapat mengandung implikasi bahwa hal khusus maupun umum sama sekali belum
diketahui.
Hanyauntuk
menemukan suaiu kaidah yang umum perlu diselidiki terlebih dahulu hal-hal yang
khusus secara saksama.
Urutan
umum-khusus ini sebenamya dapat mencakup pula urutan sebab-akibat, klimaks,
pemecahan masalah. Atau dapat pula mengambil bentuk klasifikasi, atau
ilustrasi. Dalam ilustrasi mula-mula dikemukakan suatu pernyataan yang umum,
kemudian diajukan penjelasan-penjelasan dan bila perlu dikemukakan ilustrasi-ilustrasi
yang dapat berbentuk contoh, atau perbandingan dan pertentangan.
e.
Urutan Familiaritas
Urutan
familiaritas dimulai dengan mengemukakan sesuatu yang sudah dikenal, kemudian
berangsur-angsurpindah kepada hal-hal yang kurang dikenal. Secara logis memang
agakganjiljika pengarang mulai menguraikan sesuatu yang tidak dikenalnya, atau
yang tidak dikenal pembaca.
Bila
pembaca tidak memahami persoalannya sejak permulaan, maka ia tidak akan
melanjutkan pembacaannya. Dalam keadaan-keadaan tertentu cara ini misalnya
diterapkan dengan mempergunakan analogi. Mula-mula diuraikan hal yang
telah diketahui, kemudian diuraikan hal yang akan diperkenalkan dengan
menunjukkan kesamaan-kesamaan dengan hal yang pertama tadi.
Seorang
penulis diminta untuk membuat suatu uraian mengenai video-fon. Banyak orang
yang belum mengetahui alat macam mana video-fon itu, dan bagaimana kerjanya.
Namun ada sejumlah barang yang dikenal yang termasuk dalam keluarga ini.
Untuk
itu penulis mengemukakan hal-hal yang paling dikenal (familiar) dan
berangsur-angsur semakin kurang dikenal hingga akhirnya mengemukakan alat tadi.
Penulis menjelaskan bagaimana kerjanya sebuah alattelegraf, radio, telefon,
radio- telefoni, teievisi, dan akhirnya video-fon.
Bila
telegraf hanya bekerja sepihak, maka telefon bekerja timbal-balik. Bila radio
bekerja hanya sepihak, maka radio-telefoni bekerja timbal-balik. Demikian pula
bila teievisi bekerja hanya searah, maka video-fon bekerja dua arah
timbal-balik. Pembaca akan menerima dengan niudah uraian mengenai video-fon,
karena beberapa alat yang sudah familiar.
f.
Urutan Akseptabilitas
Urutan
akseptabilitas mirip dengan urutan familiaritas. Bila urutan familiaritas
mempersoalkan apakah suatu barang atau hal yang sudah dikenal atau tidak oleh
pembaca, maka urutan akseptabilitas mempersoalkan apakah suatu gagasan diterima
atau tidak oleh para pembaca, apakah suatu pendapat disetujui atau tidak oleh
para pembaca.
Sebab
itu sebelum menguraikan gagas- an-gagasan yang mungkin ditolak oleh pembaca,
penulis harus mengemukakan gagasan-gagasan yang kiranya dapat diterima oleh
pembaca; dan sekaligus gagasan-gagasan itu menjadi landasan pula bagi gagasan
yang mungkin akan ditolak itu.
Dalam
diskusi tentang penghapusan penjajahan di muka bumi ini, seorang kolonial tidak
akan menerima desakan untuk meninggalkan daerah jajahannya.
Penulis
harus mulai membica- rakan prinsip-prinsip yang diterima oleh tokoh kolonial
tadi. Prinsip- prinsipyang kiranya dapat diterima oleh siapa pun adalah:
manusia pada dasarnya dilahirkan bebas, sebab itu setiap orang berhak untuk
menentukan nasibnya sendiri, mengatur rumah-tangganya sendiri.
Bila
prinsip ini diterima, penulis boleh melangkah lebih jauh bahwa dengan demikian
tiap orang bebas pula mengadakan kumpulan-kumpulan untuk mengatur kepentingan
mereka bersama.
Kumpulan-kumpulan
ini dalam bentuk besarnya dapat berupa suku atau bangsa. Sebab itu setiap
kelompok, suku atau bangsa juga mempunyai hak dan kebebasan sepenuhnya untuk
mengatur rumah-tangganya, bebas menentukan nasibnya dan sebagainya. Kalau prinsip
di atas diterima, maka hal yang khusus, yaitu masalah penjajahan yang merampas
kebebasan suatu kelompok itu, harus pula dilenyapkan dari muka bumi ini.
Suatu
hal yang perlu ditegaskan di sini sebelum melangkah kepada persoalan yang lain,
adalah bahwa tidak ada keharusan untuk mempergunakan pola kerangka karangan
yang sama dalam seluruh karangan. Konsistensi harus terletak dalam tingkatan
serta satuan yang sama.
Misalnya
bila pada topik-topik utama telah dipergunakan urutan waktu kronologis), maka
pengarang harus meniaga agar hanya topik-topik yang mengandung urutan waktu
saja yang dapat disajikan dalam topik utamanya. Satuan-satuan topik bawahan
dapat mempergunakan urutan lain sesuai dengan kebutuhannya.
5.
Macam
Kerangka Karangan
Macam‐macam kerangka karangan
1.
Berdasarkan perincian
a.Kerangka
karangan sederhana (non‐formal)
Merupakan
suatu alat bantu, sebuah penuntun bagi suatu tulisan yang terarah yang terdiri
dari tesis dan pokok‐pokok
utama.
b.
Kerangka karangan formal Kerangka karangan yang timbul dari pertimbangan bahwa
topik yang akan di garap bersifat sangat komplek
2.
Berdasarkan perumusan teks
a.Kerangka
kalimat Menggunakan kalimat deklaratif yang lengkap untuk merumuskan setiap
topik, sub topik. Misalnya :
1.Pendahuluan
2.Latar
belakang
3.Rumusan
masalah
4.Tujuan
Manfaat
menggunakan kerangka kalimat :
Memaksa
penulis untuk merumuskan topik yang akan diuraikan
Perumusan
topik‐topik akan tetap jelas
Kalimat
yang dirumuskan dengan baik dan cermat akan jelas bagi siapapun, seperti bagi
pengarangnya sendiri.
Kerangka
topik Kerangka topik dimulai dengan perumusan tesis dalam sebuah kalimat yang
lengkap dan menggunakan kata atau frase. Kerangka lebih baik manfaatnya dari
kerangka topik, tetapi kelebihan kerangka topik adalah lebih jelas merumuskan hubungan‐ hubungan kepentingan
antar gagasan.
Daftar
Pustaka
http://www.temukanpengertian.com/2013/09/pengertian-tema-karangan.html
https://azizturn.wordpress.com/2009/11/14/pemilihan-topik/
https://id.wikipedia.org/wiki/Tema
https://msaepulanwarstudent.wordpress.com/2015/11/25/
http://www.authorstream.com/Presentation/dwikamal-1399421-tema-karangan/
http://top-studies.blogspot.co.id/2015/06/kerangka-karangan-dan-polanya.html
http://www.dosenpendidikan.com/pengertian-dan-manfaat-kerangka-karangan-menurut-ahli-bahasa/
http://www.dosenpendidikan.com/pola-susunan-kerangka-karangan-menurut-para-ahli-bahasa/







0 komentar:
Posting Komentar