Sabtu, 05 Desember 2015

sdasdaf

TEMA KARANGAN

Tema karangan adalah sesuatu yang akan disampaikan atau yang menjadi pokok masalah dalam karangan. Tema biasanya disampaikan dalam sebuah kalimat. Dalam kerangka karangan, tema dapat dijabarkan menjadi topik-topik yang lebih sempit.

1.    Pengertian Tema
Tema merupakan suatu gagasan pokok atau ide pikiran tentang suatu hal, salah satunya dalam membuat suatu tulisan. Di setiap tulisan pastilah mempunyai sebuah tema, karena dalam sebuah penulisan dianjurkan harus memikirkan tema apa yang akan dibuat. Dalam menulis cerpen,puisi,novel,karya tulis, dan berbagai macam jenis tulisan haruslah memiliki sebuah tema. Jadi jika diandaikan seperti sebuah rumah, tema adalah fondasinya. Tema juga hal yang paling utama dilihat oleh para pembaca sebuah tulisan. Jika temanya menarik, maka akan memberikan nilai lebih pada tulisan tersebut.

2.      Pemilihan Topik
Dalam menulis suatu karya tulis, pemilihan topik sangatlah penting dan dapat menentukan hasil dari karya tulis tersebut. Untuk itu perlu diperhatikan syarat-syarat dalam pemilihan topik-topik yang baik. Berikut ini beberapa syarat yang harus diperhatikan penulis dalam pemilihan topik suatu karya tulis :
1. Topik harus menarik perhatian penulis.
Topik yang menarik perhatian akan memotivasi pengarang atau penulis secara terus-menerus mencari data-data untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya. Penulis akan didorong agar dapat menyelesaikan tulisan sebaik-baiknya. Sebaliknya, jika suatu topik yang sama sekali tidak disenangi penulis akan menimbulkan kekesalan. Bila terdapat hambatan pun, penulis tidak akan berusaha sekuat tenaga untuk menentukan data dan fakta yang akan digunakan untuk memecahkan masalah.
2. Topik harus diketahui/dipahami penulis.
Penulis hendaklah mengerti serta mengetahui meskipun baru prinsip-prinsip ilmiahnya. Misalnya asal data yang digunakan berasal dari mana? , metode analisis yang digunakan, dan referensi apa saja yang akan menjadi acuan.
3. Jangan terlalu baru, teknis, dan kontroversial.
Bagi penulis pemula, topik yang terlalu baru kemungkinan belum ada referensinyadalam kepustakaan.  Topik yang terlalu teknis kemungkinan dapat menjebak penulis jika tidak benar-benar menguasai bahan penulisannya. Begitu juga topik yang kontroversial akan menimbulkan kesulitan untuk bertindak secara objektif.
4. Bermanfaat.
Topik yang dipilih hendaknya bermanfaat. Ditinjau dari segi akademis dapat mengembangkan ilmu pengetahuan dan dapat berguna dalam ehidupan sehari-hari maupun dari segi praktis.
5. Jangan terlalu “Luas”.
Penulis harus membatasi topik yang akan ditulis. Setiap penulis harus betul-betul yakin bahwa topik yang dipilihnya cukup sempit dan terbatas untuk digarap sehingga tulisan bisa fokus dan tepat sasaran.
Hal yang perlu diperhatikan penulis ialah pembatasan topik. Pembatasan topik sekurang-kurangnya dapat membantu penulis atau pengarang dalam berbagai hal berikut ini :
1. Memungkinkan penulis penuh dengan keyakinan dan kepercayaan bahwa topik tersebut benar-benar diketahuinya.
2. Memungkinkan penulis mengadakan penelitian dengan intensif mengenai masalahnya.
Cara membatasi sebuah topik dapat dilakukan dengan cara :
1. Tetapkanlah topik dalam kedudukan sentral.
2. Ajukan pertanyaan apakah topik tersebut masih dapat dirinci?.
3. Tetapkanlah yang mana subtopik yang akan dipilih.
4. Ajukanlah pertanyaan apakah subtopik yang dipilih masih dapat dirinci lebih lanjut.
5. Lakukan proses diatas secara terus-menerus hingga mendapatkan sebuah Tema.
Jika telah mendapatkan topik yang sesuai apalagi yang perlu dicari?. Dalam sebuah karya tulis, pemilihan judul juga perlu diperhatikan. berikut syarat-syarat judul yang baik :
1. Original dan asli.
2. Relevan.
3. Provokatif.
4. Singkat.
Ilustrasi Pemilihan topik :
Description: ilustrasi pemilihan topik
3.    Pembatasan Maksud
Pembatasan maksud merupakan sebuah rancangan meyeluruh yang memungkinkan penulis bergerak bebas dalam batasbatas tadi. Seperti halnya dalam pembatasan topic, pembatasan maksud juga akkan menentukan bahan mana yang diperlukan, serta cara mana yang paling baik bagi penyusunan karangan itu.
4.    Menentukan Maksud
Menentukan Maksud Pembatasan topik sampai pada tahap ini belum cukup , masih ada satu hal yang penting yang perlu ditetapkan yaitu apa maksud pengarang dalam menguraikan topik tadi . Pembatasan maksud merupakan sebuah rancangan menyeluruh yang memungkinkan penulis bergerak bebas dalam batas-batas . Seperti halnya dengan pembatasan topik , pembatasan maksud juga akan menentukan bahan mana yang diperlukan , serta cara mana yang paling baik bagi penyusun karangan itu .
5.    Tesis dan Pengungkapan Maksud
Perumusan singkat yang mengandung tema dasar dari sebuah karangan atau gagasan sentral yang menonjoldisebut tesis . Bila tulisan itu tidak menonjolkan suatu gagasan utama , maka dalam bentuk singkatnya dapat dinyatakan dalam bentuk penjelasan tentang apa yang ingin disampaikan . Perumusan singkat ini yang tidak menekankan tema dasarnya disebut pengungkapan maksud .
6.    Tema Yang Baik
Tema yang Baik Tema yang dikembangkan dengan jujur dan segar , digarap secara terperinci dan jelas , sehingga dapat menambahkan informasi yang berharga bagi perbendaharaan pengetahuan pembaca sebagai sebuah tema yang baik . Sebuah tema yang baik dapat dinilai dari dua sudut , yaitu : dari sudut suatu karya yang sudah siap , dan dari syarat-syarat yang dipenuhi pada saat sebuah tema mulai disusun . Atau penilaian itu dapat dilakukan dengan mempersoalkan apakah sebuah karya itu bernilai atau tidak . Sebuah karya dianggap tidak bernilai apabila pemikirannya kabur dan ditulis dengan tergesa-gesa , tidak memiliki gagasan sentral , tetapi hanya mengungkapkan beberapa pernyataan yang lepas . Apa yang dikemukakan merupakan klise-klise umum , atau pikiran dan pendapat orang lain tanpa mengemukakan hasil pikirannya sama sekali ; tulisan itu tidak dikembangkan dengan baik untuk menjawab persoalan-persoalan tentang topik atau bagian-bagiannya . Di samping itu tulisan itu tidak bernilai kalau susunannya tidak teratur , tidak mengikuti urutan yang logis dan koherensi atau kepaduannya kurang baik . Pendeknya sebuah karangan atau tulisan tidak bernilai sama sekali kalau penulisannya tidak berusaha memeras pikirannya sendiri , tidak berusaha mencari informasi-informasi untuk menyakinkan dirinya bahwa ia mengetahui persoalan itu .




KERANGKA KARANGAN

1.      Pengertian Kerangka Karangan
Kerangka karangan (outline) merupakan suatu rencana kerja yang mengandung ketentuan tentang bagaimana menyusun karangan dan bagaimana menyusun ide secara logis dan teratur. Sebelum mengarang, utamanya penulis pemula dianjurkan menyusun kerangka untuk menghindarkan kesalahan-kesalahan yang tidak perlu terjadi. Selain itu kerangka karangan berguna untuk:
- Membantu penyusunan karangan secara teratur sehingga tidak terjadi pengulangan ide
- Mencegah terjadinya pembahasan yang keluar dari sasaran yang sudah dirumuskan dalam topic atau judul karangan
- Memperlihatkan bagian-bagian pokok karangan
- Memperlihatkan bahan-bahan yang diperlukan dalam pembahasan masalah yang akan ditulis
Adapun langkah yang mesti ditempuh untuk membuat kerangka karangan adalah
1. Menentukan tema yang akan dikembangkan menjadi karangan
2. Merumuskan topic-topic yang merupakan subtemanya
3. Mengadakan inventaris sub-subtopiknya
4. Mengevaluasi topic-topik itu dan menyeleksi topic mana yang dapat dibuang
5. Menentukan pola susun topic-topik yang paling cocok
6. Menentukan pola pengembangan yang akan digunakan (meskipun tidak bersifat kaku tanpa variasi)
Jika kita memahami bahwa kerangka karangan adalah suatu rencana kerja yang memuat garis-garis besar karangan yang akan kita garap, maka menyusun kerangka karangan berarti memecah-memecah topic kedalam beberapa subtopic. Bahkan ,mungkin pula subtopic masih perlu dipecah lagi menjadi beberapa sub-subtopic
Ada dua jenis kerangka karangan, yaitu :
1. Kerangka karangan yang berbentuk kalimat
2. Kerangka karangan yang berbentuk topic
Kerangka kalimat menggunakan kalimat berita yang lengkap untuk merumuskan setiap topic, subtopic maupun sub-subtopicnya, sedangkan kerangka topic hanya terdiri atas topic-topik yang berupa frasa atau bahkan kata
2.      Manfaat Kerangka Karangan
Manfaat Kerangka Karangan
Mengapa metode ini sangat dianjurkan kepada para penulis, terutama kepada mereka yang baru mulai menulis?
Karena metode ini akan membantu setiap penulis untuk menghindari kesalahan-kesalahan yang tidak perlu dilakukan. Atau secara terperinci dapat dikatakan bahwa outlie atau kerangka karangan dapat membantu penulis dalam hal-hal berikut:
a. Untuk menyusun karangan secara teratur.
Kerangka karangan membantu penulis untuk melihat wujud gagasan- gagasan dalam sekilas pandang, sehingga dapat dipastikan apakah susunan dan hubungan timbal-balik antara gagasan-gagasan itu sudah tepat, apakah gagasan- gagasan itu sudah disajikan dengan baik, harmonis dalam perimbangannya.
Dengan kata lain, apakah tesis atau pengungkapan maksud sudah diperinci secara maksimal dan urutannya sudah disusun dalam pola teratur atau tidak. Demikian seterusnya, apakah setiap gagasan bawahan sudah diperinci pula secara maksimal dan telah diurutkan pula dengan baik.
b. Memudahkan penulis menciptakan klimaks yang berbeda- beda.
Setiap tulisan dikembangkan menuju ke satu klimaks tertentu. Namun sebelum mencapai klimaks dari seluruh karangan itu, terdapat sejumlah bagian yang berbeda-beda. kepentingannya terhadap klimaks utama tadi. Tiap bagian juga mempunyai kilrnaks tersendiri dalam bagiannya.
Supaya pembaca dapat terpikat secara terus-menerus menuju kepada klimaks utama, maka susunan bagian- bagian harus diatur pula sedemikian sehingga iercipta klimaks yang berbeda-beda yang dapat memikat perhatian pembaca.
c. Menghindari penggarapan sebuah topik sampai dua kali atau lebih.
Ada kemungkinan suatu bagian perlu dibicarakan dua kali atau lebih, sesuai dengan kebutuhan tiap bagian, dan karangan itu. Namun penggarapan suatu topik sampai dua kali atau lebih tidak perlu. Karena hal itu hanya akan membawa efek yang tidak menguntungkan misalnya: bila penulis tidak sadar betul maka pendapatnya mengenai topik yang sama pada bagian terdahulu lain, sedangkan pada bagian kemudian bertentangan dengan terdahulu.
Hal ini tidak dapat diterima, bahwa dalam satu karangan yang ssama terdapat pendapat yang bertentangan satu sama lain. Di pihak lain menggarap suatu topik lebih dan satu kali hanya membuangwaktu, tenagadan materi. Kalau memang tidak dapat dihindari maka penuiis harus menetapkan pada bagian mana topik tadi harus diuraikan, sedangkan bagian yang lain cukup dengan menunjuk kembali kepada bagian yang fain tadi (lihat selanjutnya Catatan Kaki).
d. Memudahkan penulis untuk mencari materi pemhantu.
Dengan mernpergunakan perincian-perincian dalam kerangka karangan penuiis dengan mudah akan mencari data-data atau fakta-fakta untuk memperjelas atau membuktikan pendapatnya. Atau data dan fakta-fakta yang telah dikumpulkan akan dipergunakan untuk bagian-bagian mana dari karangannya itu.
Bila seorang pembaca kelak menghadapi karangan yang telah sjap, ia dapat menyusutkannya kembaii kepada kerangka karangan yang hakikatnya sama dengan apa yang te!ah dibuai pengarangnya. Dengan penyusutan ini pembaca akan melihat wujud, gagasan, struktur, serta nilai umum dari karangan itu.
Kerangka karangan merupakan miniatur atau prototipe dari sebuah karangan. Dalam bentuk miniatur ini karangan tersebut dapat diteliti, dianaiisa, dan dipertimbangkan secara menyeluruh, bukan secara terlepas- lepas. Dengan demikian: tesis/pengungkapan maksud = kerangka karangan = karangan -ringkasan.
3.      Penyusuan Kerangka Karangan
Suatu kerangka karangan yang baik tidak sekali dibuat. Penulis selalu akan berusaha menyempurnakan bentuk yang pertama, sehingga bisa diperoleh bentuk yang lebih baik, demikian seterusnya. Untuk itu dapatdikemukakan beberapa langkah yang perlu diikuti, terutama bagi mereka yang baru mulai manulis.
Langkah-langkah ini tidak mutiak harus diikuti oleh penulis-penulis yang sudah mahir. Seorang penulis yang sudah biasa dengan tulisan-tulisan yang kompleks, akan dengan mudah menyusun suatu kerangka karangan yang baik. Namun sebelum seorang penulis baru mahir menyusun sebuah karangan ia memerlukan beberaoa tuntunan.
Langkah-langkah sebagai tuntunan yang harus diikuti adalah sebagai berikut:
Rumuskan tema yang jelas berdasarkan suatu topik dan tujuan yang akan dicapai melalui topik tadi. Tema yang dirumuskan untuk kepentingan suatu kerangka karangan haruslah berbentuk tesis atau pengungkapan maksud.
Langkah yang kedua adalah mengadakan inventarisasi topik-topik bawahan yang dianggap merupakan perincian dari tesis atau pengungkapan maksud tadi. Dalam hal ini penulis boleh mencatat sebanyak-banyaknya topik-topik yang terlintas dalam pikirannya, dengan tidak perlu langsung mengadakan evaluasi terhadap topik-topik tadi.
Langkah yang ketiga adalah penulis berusaha mengadakan evaluasi semua topik yang telah tercatat pada langkah kedua di atas. Evaluasi tersebut dapat dilakukan dalam beberapa tahap sebagai berikut:
Pertama: Apakah. semua topik yang tercatat mempunyai pertalian (relevansi) langsung dengan tesis atau pengungkapan maksud. Bila ternyata sama sekali tidak ada hubungan maka topik tersebut dicoret dari daftar di atas.
Kedua : Semua topik yang masih dipertahankan ke- mudian dievaluasi lebih lanjut. Apakah ada dua topik atau lebih yang se- benarnya merupakan hal yang sama, hanya dirumuskan dengan cara yang berlainan. Bila ternyata terdapat kasus yang semacam itu, maka harus diadakan perumusan bam yang mencakup semua topik tadi.
Ketiga : Evaluasi lebih lanjut ditujukan kepada persoalan: apakah semua topik itu sama derajatnya, atau ada topik yang sebenamya merupakan bawah- an atau perincian dari topik yang lain. Bila ada masukkanlah topik bawahan itu ke dalam topik yang dianggap lebih tinggi kedudukannya. Bila topik bawahan itu hanya ada satu usahakan dilengkapi dengan topik-topik bawahan yang lain.
Ke empat : Ada kemungkinan bahwa ada dua topik atau lebih yang kedudukannya sederajat, tetapi lebih rendah dari topik-topik yang lain. Bila terdapat hal yang demikian, maka usahakanlah untuk mencari satu topik yang lebih tinggi yang akan membawahi topik-topik tadi.
Untuk mendapatkan sebuah kerangka karangan yang sangatterperinci maka langkah kedua dan ketiga dikerjakan beruiang-ulang untuk menyusun topik-topik yang lebih rendah tingkatannya.
Sesudah semuanya siap masih bams dilakukan langkah yang terakhir, yaitu menentukan sebuah pola susunan yang paling cocok untuk mengurutkan semua perincian dari tesis atau pengungkapan maksud sebagai yang telah diperoleh dengan mempergunakan semua langkah di atas.
Dengan pola susunan tersebut semua perincian akan disusun kembali sehingga akan diperoleh sebuah kerangka karangan yang baik.


4.      Pola Susunan Kerangka Karangan
Untuk memperoleh suatu susunan kerangka karangan yang teratur, biasanya dipergunakan beberapa cara atau tipe susunan. Pola susunan yang paling utama adalah pola alamiah dan pola logis. Pola alamiah dan suatu kerangka karangan biasanya dida- sarkan atas urutan-urutan kejadian, atau urutan-urutan tempatatau ruang. Sebaliknya pola logis walaupun masih ada sentuhan dengan keadaan yang nyata, tetapi lebih dipengaruhi oleh jalan pikiran manusia yang menghadapi persoalan yang tengah digarap itu.
Pola Alamiah .
Susunan atau pola alamiah adalah suatu urutan unit-unit kerangka karangan sesuai dengan keadaan yang nyata di alam. Sebab itu susunan alamiah itu didasarkan pada ketiga (atau keempat) dimensi dalam kehidupan manusia: atas – bawah, melintang – menyeberang, sekarang – nanti, dulu – sekarang, timur – barat, dan sebagainya. Sebab itu susunan alamiah dapat dibagi lagi menjadi tiga bagian utama, yaitu urutan berdasarkan waktu (urutan kronologis), urutan berdasarkan ruang (urutan spasial), dan urutan berdasarkan topik yang sudah ada
a. Urutan Waktu (Kronologis)
Urutan waktu atau urutan kronologis adalah urutan yang didasarkan pada runtunan peristiwa atau tahap-tahap kejadian. Yang paling mudah dalam pola urutan ini adalah mengurutkan peristiwa menurut urutan kejadiannya atau berdasarkan kronologinya; peristiwa yang satu mendahului yang lain, atau suatu peristiwa mengikuti peristiwa yang lain. Sering suatu peristiwa hanya akan menjadi penting bila dilihat dalam rangkaian dengan peristiwa-peristiwa lainnya. Biasanya peristiwa yang pertama sama sekali tidak menarik perhatian, sampai rangkaian kejadian itu mengalami perkembangan.
Suatu corak lain dan urutan kronologis yang sering diper-gunakan dalam roman, novel, cerpen, dan dalam bentuk karangan naratif lainnya, adaiah suatu variasi yang muiai dengan suatu titik yang menegangkan, kemudian mengadakan sorot-balik (flash¬back) sejak awal mula perkembangan hingga titik yang mene¬gangkan tadi. Uraian selanjutnya mencakup perkembangan sesudah apa yang dikemukakan daiam bagian pertama yaitu titik yang menegangkan tadi.
Urutan kronologis adaiah urutan yang paling umum, tetapi juga merupakan satu-satunya cara yang kurang menarik dan paling lemah. Sering, terutama daiam menjelaskan suatu proses, urutan ini merupakan cara yang esensial.
b. Urutan Ruang (Spasial)
Urutan ruang atau urutan spasial menjadi landasan yang pal¬ing penting, bila topik yang diuraikan mempunyai pertalian yang sangat erat dengan ruang atau tempat. Urutan ini terutama digunakan daiam tulisan-tulisan yang bersifat deskriptif. Pembaca akan mengikuti jalan pikiran penulis dengan teraturseandainya penulis muiai menggambarkan suatu ruangan dari kiri ke kanan, dari timur ke barat, dari bawah ke atas, dari depan ke belakang, dan sebagainya.
Uraian tentang kepadatan penduduk suatu daerah dapat dikemukakan dengan landasan urutan geografis (dari timur ke barat, atau dari utara keselatan);deskripsi mengenai sebuah gedung bertingkat dapat dilakukan dari tingkat pertama berturut- turut hingga tingkat terakhir; observasi terhadap candi Borobudur dgpat dilakukan dari tingkat atau teras terbawah berturut-turut hingga teras teratas, dengan mengikuti arah jarum jam.
c. Topik yang Ada
Suatu pola peralihan yang dapat dimasukkan daiam pola alamiah adaiah urutan berdasarkan topik yang ada. Suatu barang, hal, atau peristiwa sudah dikenal dengan bagian-bagian tertentu. Untuk menggambarkan hal tersebut secara lengkap, mau tidak mau bagian-bagian itu harus dijelaskan berturut-turut daiam karangan itu, tanpa mempersoalkan bagian mana lebih penting dari lainnya, tanpa memberi tanggapan atas bagian-bagiannya itu.
Laporan keuangan selalu akan terdiri dari dua bagian yaitu pemasukan dan pengeluaran, dengan tidak mempersoalkan mana yang didahulukan dan mana yang diuraikan kemudian. Perserikatan Bangsa-Bangsa terdiri dari beberapa badan. Penulis boleh mengurutkan bagian-bagian itu tanpa implikasi bahwa yang diuraikan lebih dahulu itu merupakan bagian yang lebih penting dari bagian yang diuraikan kemudian.
Pola Logis
Sering terdengar ucapan ’’manusia adalah hewan yang berakal budi”. Berarti manusia mempunyai suatu kesanggupan lebih dari hewan- hewan lainnya yaitu sanggup menanggapi segala sesuatu yang berada di sekitarnya dengan kemampuan akal budinya. la mencoba mencari hubungan-hubungan antara bermacam-macam peristiwa.
Kemampuan budinya itu tercermin pula dalam usaha menyusun suatu uraian sesuai dengan tanggapannya. Tanggapan yang sesuai dengan jalan pikiran untuk menemukan landasan bagi setiap persoalan, mampu dituang dalam suatu susunan atau umtan logis. Urutan logis sama sekali tidak ada hubungan dengan suatu ciri yang inheren dalam materinya, tetapi erat dengan tanggapan penulis.
Sebenarnya semua topik yang diurutkan dalam suatu hubungan yang logis itu bertolak dari topik-topik yang sudah ada. Namun topik yang sudah ada itu oleh penulis dicarikan hubungannya satu sama lain, diberikan tanggapan dan diberi ciri- ciri tertentu.
Macam-macam urutan logis yang dikenal adalah:
a. Urutan Klimaks dan Anti Klimaks
Urutan ini timbul sebagai tanggapan penulis yang berpendirian bahwa posisi tertentu dari suatu rangkaian merupakan posisi yang paling tinggi kedudukannya atau yang paling menonjol. Biia posisi yang paling penting itu berada pada akhir rangkaian maka urutan ini disebut klimaks. Dalam urutan klimaks pengarang menyusun bagian-bagian dari topik itu dalam suatu urutan yang semakin meningkat kepentingannya, dari yang paling rendah kepen- tingannya, bertingkat-tingkatnaik hingga mencapai ledakan pada akhirrangkaian.
Urutan yang merupakan kebalikan dan klimaks adalah anti klimaks. Penulis mulai suatu yang paling penting dari suatu rangkaian dan berangsur-angsur menuju kepada suatu topik yang paling rendah kedudukan atau kepentingannya. Urutan ini hanya efektif kalau topik-topik yang dikemukakan itu berupa hal-hal yang konkret, misalnya: hierarki pemerintahan, hierarki jabatan, dan sebagainya.
Sebaliknya untuk menguraikan gagasan-gagasan yang abstrak maka urutan anti- klimaks akan menimbulkan kesulitan karena tidak menarik perhatian; kalau sesuatu yang penting telah dikemukakan maka hal-hal yang penting tidak akan menarik lagi.
Dasardari urutan ini adalah bahwa orang tidak akan menaruh perhatian lagi terhadap hal-hal yang kurang penting seandainya hal yang paling penting sudah dikemukakan lebih dahulu. Kekecewaan orang terhadap anti-klimaks disebabkan oleh kegagalan menempatkan bagian yang paling penting atau yang paling tinggi pada tempat yang tepat.
b. Urutan Kausal ‘
Urutan kausal mencakup dua pola yaitu urutan dari £ ibab ke akibat, dan urutan akibatke sebab, Pada pola yang pertama suatu masalah dianggap sebagai sebab, yang kemudian dilanjutkan dengan perincian-perincian yang menelusuri akibat-akibat yang mungkin teijadi. Urutan ini sangat efektif dalam penulisan sejarah atau dalam membicarakan persoalan-persoalan yang dihadapi umat manusia pada umumnya.
Sebaliknya, bila suatu masalah dianggap sebagai akibat, yang dilanjutkan dengan perincian-perincian yang berusaha mencari sebab-sebab yang menimbulkan masalah tadi, maka urutannya merupakan akibat-sebab. Mengapa seofang ditangkap?
Karena melakukan korupsi. Jadi persoalan pertama yang dikemukakan adalah peristiwa penangkapan itu sendiri yang dianggap sebagai akibat, kemudian penulis berusaha mencari sebab-sebabnya yang dikemukakan dalam tindakan korupsi. Cara ini merupakan cara yang paiing umum.
c. Unitan Pemecahan Masalah
Urutan pemecahan masalah dimulai dari suatu masalah te;ientu, kemudian bergerak menuju kesimpulan umum atau pemecahan atas masalah tersebut. Sekurang-kurangnya uraian yang mempergunakan landasan pemecahan masalah terdiri dari tiga bagian utama, yaitu deskripsi mengenai peristiwa atau persoalan tadi, kedua, analisa mengenai sebab-sebab atau akibat- akibat dari persoalan, dan akhirnya aiternatif-alternatif untukjalan keluardari masalah yang dihadapi tersebut.
Dengan demikian untuk memecahkan masalah tersebut secara tuntas, penulis harus benar-benar menemukan semua sebab baikyang langsung maupun yang tidak langsung bertalian dengan masalahr tadi. Setiap masalah hanya bisa dikatakan masalah kalau akibat-akibatyang ditimbulkan telah mencapai titik kritis.
Sebab itu untuk memecahkan masalah tersebut tidak bisa hanya terbatas pada penemuan sebab-sebab, tetapi juga harus menemukan semua akibat baik yang langsung maupun yang tidak langsung, yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi kelak.
Sebuah panitia yang dibentuk untuk mengatasi masalah bencana alam yang terjadi karena banjir yang melanda suatu daerah, tidak akan berhasil kalau ia hanya bertugas untuk mengumpulkan bahan makanan atau pakaian bagi yang ditimpa musibah. la harus menganalisa mengapa sampai terjadi banjir, di samping menemukan aklbat-akibat yang terjadi.
Dengan mengemukakan aiternatif-alternatif untuk mengatasi banjir di kemudian hail, dan menyarankan cara-cara untuk menanggulangi akibat-akibat yang telah dan akan terjadi, diharapkan masalah itu dapatdiatasi secara tuntas.
d. Urutan Umum – Khusus
Urutan umum-khusus terdiri dari dua corak yaitu dan umum ke khusus, atau dari khusus ke umum.
Urutan yang bergerakdari umum ke khusus pertama-tama mernperkenalkan kelompok-kelompok yang paling besar atau yang paling umum, kemudian menelusuri kelompok-kelompok khusus atau kecil. Pertama-tama penulis menguraikan misalnya bangsa Indonesia secara keseluruhan, kemudian turun kepada hal-hal yang lebih khusus kepada suku-suku bangsa yang membentuk bangsa Indonesia seperti: suku Batak, Aceh, Sunda, Melayu, Jawa, dsb.
Dari uraian yang bersifat khusus tadi, penulis bisa melangkah kepada hal yang lebih khusus lagi, yaitu perincian dari tiap suku bangsa tadi.
Urutan khusus-umum menjpakan kebalikan dari uraian di atas. Penulis mulai uraiannya mengenai hal-hal yang khusus kemudian meningkat kepada hal-hal yang umum yang mencakup hal-hal yang’ khusus tadi, atau mulai membicarakan individu-individu kemudian kelompok-kelompok.
Urutan ini merupakan salah satu urutan yang paling lazim dalam corak berpikirmanusia. Dalam mengadakan pengelompokan-pengelompokan terhadap dunia hewan, maka ahli-ahli mulai meneliti hewan-hewan secara individual, kemudian menggabungkannya menjadi keluarga, species, dan sebagainya.
Urutan umum – khusus dapat mengandung implika^i bahwa hal yang umum sudah diketahui penulis, sedangkan tugasnya selanjutnya adalah mengadakan identifikasi sejauh mana hal-hal yang khusus mengikuti pola umum tadi. Sebaliknya urutan khusus – umum dapat mengandung implikasi bahwa hal khusus maupun umum sama sekali belum diketahui.
Hanyauntuk menemukan suaiu kaidah yang umum perlu diselidiki terlebih dahulu hal-hal yang khusus secara saksama.
Urutan umum-khusus ini sebenamya dapat mencakup pula urutan sebab-akibat, klimaks, pemecahan masalah. Atau dapat pula mengambil bentuk klasifikasi, atau ilustrasi. Dalam ilustrasi mula-mula dikemukakan suatu pernyataan yang umum, kemudian diajukan penjelasan-penjelasan dan bila perlu dikemukakan ilustrasi-ilustrasi yang dapat berbentuk contoh, atau perbandingan dan pertentangan.
e. Urutan Familiaritas
Urutan familiaritas dimulai dengan mengemukakan sesuatu yang sudah dikenal, kemudian berangsur-angsurpindah kepada hal-hal yang kurang dikenal. Secara logis memang agakganjiljika pengarang mulai menguraikan sesuatu yang tidak dikenalnya, atau yang tidak dikenal pembaca.
Bila pembaca tidak memahami persoalannya sejak permulaan, maka ia tidak akan melanjutkan pembacaannya. Dalam keadaan-keadaan tertentu cara ini misalnya diterapkan dengan mempergunakan analogi. Mula-mula diuraikan hal yang telah diketahui, kemudian diuraikan hal yang akan diperkenalkan dengan menunjukkan kesamaan-kesamaan dengan hal yang pertama tadi.
Seorang penulis diminta untuk membuat suatu uraian mengenai video-fon. Banyak orang yang belum mengetahui alat macam mana video-fon itu, dan bagaimana kerjanya. Namun ada sejumlah barang yang dikenal yang termasuk dalam keluarga ini.
Untuk itu penulis mengemukakan hal-hal yang paling dikenal (familiar) dan berangsur-angsur semakin kurang dikenal hingga akhirnya mengemukakan alat tadi. Penulis menjelaskan bagaimana kerjanya sebuah alattelegraf, radio, telefon, radio- telefoni, teievisi, dan akhirnya video-fon.
Bila telegraf hanya bekerja sepihak, maka telefon bekerja timbal-balik. Bila radio bekerja hanya sepihak, maka radio-telefoni bekerja timbal-balik. Demikian pula bila teievisi bekerja hanya searah, maka video-fon bekerja dua arah timbal-balik. Pembaca akan menerima dengan niudah uraian mengenai video-fon, karena beberapa alat yang sudah familiar.
f. Urutan Akseptabilitas
Urutan akseptabilitas mirip dengan urutan familiaritas. Bila urutan familiaritas mempersoalkan apakah suatu barang atau hal yang sudah dikenal atau tidak oleh pembaca, maka urutan akseptabilitas mempersoalkan apakah suatu gagasan diterima atau tidak oleh para pembaca, apakah suatu pendapat disetujui atau tidak oleh para pembaca.
Sebab itu sebelum menguraikan gagas- an-gagasan yang mungkin ditolak oleh pembaca, penulis harus mengemukakan gagasan-gagasan yang kiranya dapat diterima oleh pembaca; dan sekaligus gagasan-gagasan itu menjadi landasan pula bagi gagasan yang mungkin akan ditolak itu.
Dalam diskusi tentang penghapusan penjajahan di muka bumi ini, seorang kolonial tidak akan menerima desakan untuk meninggalkan daerah jajahannya.
Penulis harus mulai membica- rakan prinsip-prinsip yang diterima oleh tokoh kolonial tadi. Prinsip- prinsipyang kiranya dapat diterima oleh siapa pun adalah: manusia pada dasarnya dilahirkan bebas, sebab itu setiap orang berhak untuk menentukan nasibnya sendiri, mengatur rumah-tangganya sendiri.
Bila prinsip ini diterima, penulis boleh melangkah lebih jauh bahwa dengan demikian tiap orang bebas pula mengadakan kumpulan-kumpulan untuk mengatur kepentingan mereka bersama.
Kumpulan-kumpulan ini dalam bentuk besarnya dapat berupa suku atau bangsa. Sebab itu setiap kelompok, suku atau bangsa juga mempunyai hak dan kebebasan sepenuhnya untuk mengatur rumah-tangganya, bebas menentukan nasibnya dan sebagainya. Kalau prinsip di atas diterima, maka hal yang khusus, yaitu masalah penjajahan yang merampas kebebasan suatu kelompok itu, harus pula dilenyapkan dari muka bumi ini.
Suatu hal yang perlu ditegaskan di sini sebelum melangkah kepada persoalan yang lain, adalah bahwa tidak ada keharusan untuk mempergunakan pola kerangka karangan yang sama dalam seluruh karangan. Konsistensi harus terletak dalam tingkatan serta satuan yang sama.
Misalnya bila pada topik-topik utama telah dipergunakan urutan waktu kronologis), maka pengarang harus meniaga agar hanya topik-topik yang mengandung urutan waktu saja yang dapat disajikan dalam topik utamanya. Satuan-satuan topik bawahan dapat mempergunakan urutan lain sesuai dengan kebutuhannya.
5.      Macam Kerangka Karangan
Macammacam kerangka karangan
1. Berdasarkan perincian
a.Kerangka karangan sederhana (nonformal)
Merupakan suatu alat bantu, sebuah penuntun bagi suatu tulisan yang terarah yang terdiri dari tesis dan pokokpokok utama.
b. Kerangka karangan formal Kerangka karangan yang timbul dari pertimbangan bahwa topik yang akan di garap bersifat sangat komplek
2. Berdasarkan perumusan teks
a.Kerangka kalimat Menggunakan kalimat deklaratif yang lengkap untuk merumuskan setiap topik, sub topik. Misalnya :
1.Pendahuluan
2.Latar belakang
3.Rumusan masalah
4.Tujuan
Manfaat menggunakan kerangka kalimat :
Memaksa penulis untuk merumuskan topik yang akan diuraikan
Perumusan topiktopik akan tetap jelas
Kalimat yang dirumuskan dengan baik dan cermat akan jelas bagi siapapun, seperti bagi pengarangnya sendiri.
Kerangka topik Kerangka topik dimulai dengan perumusan tesis dalam sebuah kalimat yang lengkap dan menggunakan kata atau frase. Kerangka lebih baik manfaatnya dari kerangka topik, tetapi kelebihan kerangka topik adalah lebih jelas merumuskan hubungan hubungan kepentingan antar gagasan.





Daftar Pustaka

http://www.temukanpengertian.com/2013/09/pengertian-tema-karangan.html
https://azizturn.wordpress.com/2009/11/14/pemilihan-topik/
https://id.wikipedia.org/wiki/Tema
https://msaepulanwarstudent.wordpress.com/2015/11/25/
http://www.authorstream.com/Presentation/dwikamal-1399421-tema-karangan/
http://top-studies.blogspot.co.id/2015/06/kerangka-karangan-dan-polanya.html
http://www.dosenpendidikan.com/pengertian-dan-manfaat-kerangka-karangan-menurut-ahli-bahasa/
http://www.dosenpendidikan.com/pola-susunan-kerangka-karangan-menurut-para-ahli-bahasa/





0 komentar:

Posting Komentar